BAGAIMANA MENJADI KHATIB EFEKTIF?




BAGAIMANA MENJADI KHATIB EFEKTIF?
Oleh: Ahmad Faisol

Pada tulisan terdahulu, yaitu "Tidur Ketika Khutbah Jum'at, Mengapa?" telah dibahas bagaimana menjadi jama'ah shalat Jum'at yang baik. Sekarang bagaimana bila kita adalah seorang khatib? Apakah kita tidak perlu introspeksi diri melihat kenyataan banyak jamaah mengantuk ketika kita berkhutbah?

Kalau kita adalah khatib, maka seharusnya kita juga introspeksi diri (Muhâsabah) . Kita harus bertanya pada diri sendiri atau kepada orang lain, “Mengapa banyak jamaah mengantuk bahkan tertidur ketika saya berkhutbah? Apa ada yang kurang baik dengan cara saya? Dengan teknik pidato saya? Ataukah materi khutbah saya yang kurang berkenan di hati mereka? Pemilihan kata-kata-nya, kah?”

Memang, tugas kita hanya menyampaikan, bukan mengubah orang, karena hidayah itu dari Allah. Oleh karena itu, tugas kita selanjutnya hanyalah memperbaiki cara kita menyampaikan.

Sudah banyak buku dan kitab yang menjelaskan bagaimana teknik berdakwah yang baik, teknik pidato (khithâbah atau retorika) yang membangkitkan semangat ibadah dan asa untuk berbakti kepada-Nya. Tidakkah kita mau mempelajarinya demi perbaikan? Bukankah kita sudah sering menyampaikan pesan bijak bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini? Mengapa kita tidak menjalankan apa yang telah kita sampaikan (walk the talk)? Bukankah sudah kita pahami bersama tentang kaidah “mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsika)”?

Barangkali kita merasa bahwa dengan kondisi seperti itu saja, kita sudah sering diundang ceramah dan menjadi khatib. Kalau memang begitu anggapan kita, lantas untuk siapakah kita melakukan semuanya? Untuk manusiakah? Ketenarankah? Atau uangkah? Apakah kita tidak melakukannya demi Allah semata, yang telah mengutus rasul-Nya untuk memerintahkan kita agar menyampaikan kebaikan walau satu ayat? Apakah kita hendak menyekutukan Allah Yang Maha Esa, kita sandingkan dengan harta benda atau pujian manusia yang fana? Marilah kita introspeksi diri, untuk siapakah kita berkhutbah?

Syaikh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm al-Andalusi telah mengingatkan kita dalam bait puisinya :
Yang mengenal-Nya niscaya tak menentang-Nya
Walau segala kuasa dan tahta menggodanya
Jalan takwa dan ibadah adalah jalan termulia
Hanya pejalan terbaik yang menempuhnya
Selain di jalan kebenaran tak ada yang lebih mulia

Secara sederhana, pedoman untuk berpidato, ceramah atau khutbah yang baik adalah, “Ketika kita bicara, kita juga harus memosisikan diri sebagai pendengar. Kita dengarkan sendiri bagaimana kita berpidato, kemudian kita nilai sebagai seorang pendengar (bukan sebagai orang yang berpidato), karena ketika kita memosisikan diri sebagai pendengar, kita akan kritis terhadap orator. Kita seolah-olah menjadi dua orang yang berbeda, yaitu sebagai pembicara dan pendengar. Setelah itu kita perbaiki sedikit demi sedikit kekurangan yang ada. Bila perlu, bisa juga kita rekam dan meminta bantuan orang lain untuk menilainya.” Dari teori awal inilah, kemudian berkembang beragam teknik, langgam atau cara berpidato.

‘Aidh al-Qarni dengan begitu lengkapnya memberi panduan tentang bagaimana meramu serta mengolah isi khutbah serta menjadi khatib yang baik. Marilah kita pelajari bersama-sama sebagai ilmu untuk kemudian kita praktekkan.

Allah SWT telah membuat perumpamaan dalam firman-Nya:
Artinya : Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Artinya :pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS Ibrahim [14] : 24-25)

Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat merumuskan prinsip-prinsip, menyegarkan jiwa, menggerakkan generasi dan mendirikan sebuah bangsa.
Kalimat yang baik adalah kalimat yang memperbaiki kesalahan, mengukuhkan keadilan, meringankan kebatilan dan menghapus penyelewengan.

Kalimat yang baik adalah cara kerja, keuntungan masa lalu, musik penyemangat hari ini dan harapan yang menjanjikan di masa mendatang.

Kalimat terkuat di atas mimbar adalah nasihat pada hari di mana semua kepala tertunduk, jiwa-jiwa terdiam, mata berkaca-kaca, dan keheningan menghitam; sehingga khatib tidak mendengar kecuali hembusan nafas.

Ketika khatib berdiri, lidahnya basah dengan hujjah-hujjah, alunan suaranya merayap cepat ke dalam jiwa sebagaimana pergerakan air di batang pohon, pergerakan cinta di dalam hati dan pergerakan sinar ketika terpancar.

Khatib yang bagus, dengan ucapannya ia dapat membentuk umat yang tersia-sia menjadi umat produktif-efektif, umat membangun dan menanam, umat menulis dan membaca serta umat yang memberi (kebaikan) dan menolak (keburukan).

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. terhadap umat di padang pasir adalah menceramahi dan menasihati, memberi kabar baik juga kabar buruk, serta memerintah dan mencegah mereka.

Maka, umat-umat itu pun berubah menjadi umat yang suci, menjadi bintang yang mengarahkan dan menjadi kemilau cahaya yang menunjukkan tempat-tempat “pertempuran” bagian depan. Mengubah pujangga arak yang gila menjadi sastrawan yang sarat dengan kebijaksanaan dan penyenandung kebenaran. Mengubah bangsa Arab yang binasa menjadi hamba-hamba yang anggota tubuhnya selalu bergetar pada waktu sahur karena rasa takut kepada Allah.
Dialah khatib agung itu, Rasulullah saw., sebagaimana dikatakan, “Tidaklah beliau mengucapkan sejumlah kata, kecuali kata-kata itu membangunkan umat dari kehancuran.”

Lidah yang jujur lagi fasih dapat berperan di tengah masyarakat sebagaimana peran besar batalion yang bergemuruh dan tentara yang berpetualang.

Lidah yang jujur lagi fasih dapat menyentuh jiwa secara langsung, mengundang jiwa tanpa ada penghalang dan mengarahkan pandangan mata terhadap apa yang diinginkan.

Dengan khutbah yang menyentuh dan mengena, para pembawa panji kebenaran dan pemimpin kebajikan dapat menemukan keinginan-keinginannya.

Ketika mendengarkan khutbah, para penakut menjadi pemberani, si kikir menjadi dermawan, bodoh menjadi mulia, duduk malas menjadi usaha kreatif dan orang-orang yang hancur menjadi selamat.
Ketika mendengarkan khutbah, si fakir mendapat makanan, si telanjang mendapat pakaian, si korban musibah mendapat pertolongan dan air mata si penderita dapat dihapus.

Khatib yang berapi-api dapat mengobarkan semangat kepala para pejuang, membangkitkan gairah dalam diri para pembela kebenaran dan merangsang hati pahlawan perjuangan.

Ketika suasana menjadi gelap gulita, ketika peristiwa terjadi dan ketika bencana menimpa, maka khatib yang fasih akan mampu mengajak mereka untuk menyatukan pendapat secara bersama dan melontarkan tongkat penjelasan yang gamblang ke dalam kerumunan manusia. Tongkat hujjah itu dapat menelan kebatilan dan menjawab berbagai peristiwa.

Khatib yang fasih dapat menyulam sejarah panjang dalam sekejap mata, dapat menyusun harapan besar dalam tempo yang sangat singkat. Para khatib menolong umat hingga mereka menggapai puncak kejayaannya. Tapi jika kehormatan itu terkalahkan, mereka akan berusaha mengangkatnya, meskipun kepala mereka telah berada di atas bintang.

Jika para khatib menceramahi tentara tentang keberanian, mereka tak lagi memedulikan kematian, sehingga kematian itu tidak ubahnya seperti mengunjungi festival atau menyaksikan taman-taman indah berhias beraneka ragam bunga. Mereka mendorong para tentara untuk lebih berani, sehingga seolah hidup tanpa kematian itu tiada guna, diam tanpa pembelaan adalah sia-sia dan hidup tanpa perjuangan termasuk hal yang memalukan. Mereka tidak peduli di mana keberadaan musuh sehingga pedang-pedang para tentara itu laksana pena para penulis dan tombak-tombaknya adalah tongkat para pemain. Dengan berapi-api, sang khatib akan berkata,
“Siapa yang di telapak tangannya terdapat tombak
Ia seperti orang yang di telapak tangannya terdapat zat pewarna
Ia bisa menumpahkan warna apa saja yang ia mau.”

Jika para khatib menceramahi orang-orang kaya yang dermawan dan baik hati, mereka menjelaskan (perbuatan) memberi itu ibarat sebuah kehidupan, tidak memberi laksana sebuah kematian dan menginfakkan rejeki adalah kebahagiaan. Ceramah mereka yang berpengaruh telah mengeluarkan banyak rupiah. Ungkapan-ungkapan mereka yang tajam telah “menghamburkan” emas dan perak. Dan, dengan ceramah mereka, harta yang banyak tumpah dari tempat penyimpanannya dan simpanan-simpanan itu keluar dari timbunannya.

Jika menceramahi orang-orang miskin, para khatib menjadikan getirnya kemiskinan sebagai kebahagiaan dan penderitaan yang menghimpit sebagai suatu kemuliaan. Sebab, orang-orang miskin biasanya iri hati karena kemiskinannya dan cemburu karena ketidakpunyaannya.

Ketika memberi ceramah kepada korban bencana, para khatib mempersembahkan sanjungan dan keutamaan kepada mereka. Sebab, setiap orang yang tertimpa musibah, dinilainya sebagai sosok yang dipilih dan diseleksi karena musibahnya.

Para khatib yang gemilang dapat memindahkan benturan kekalahan menjadi kemenangan dan guncangan kesengsaraan menjadi keluhuran, dengan ungkapan yang agung dan kata-kata yang sakral.

Tidaklah kejadian, peristiwa dan penampilan-penampilan itu, melainkan hasil dari perkataan dan khutbah yang bersayap lagi bergemuruh.

Rasulullah memberikan ceramah yang sarat dengan makna pada perang Badar. Ceramah itu dapat mendekatkan surga kepada para perindu kebahagiaan, menciptakan kebencian pada kekekalan dunia ketika ia datang, mempermudah mati bagi para pencarinya dan yang menginginkannya. Karena itu, orang-orang beriman berlomba untuk mengikuti petunjuknya. Mereka seolah berada dalam peperangan dengan musuh demi memasuki ke delapan pintu surga, memerangi orang-orang kafir demi berkeliling di dalam surga al-Kautsar dan menghancurkan misi para penyembah berhala demi merasakan gelas penuh kenikmatan di dalam surga ‘Adn.

Demikian juga, Nabi saw. pun pernah menyampaikan khutbah sehari menjelang perang Uhud. Karenanya, para pahlawan itu enggan menetap di Madinah dan lebih memilih berangkat ke bukit Uhud. Gema suara khutbah itu terdengar di telinga seperti simbol-simbol pasukan, bendera gerilyawan dan tanda-tanda tentara.

Ketika Rasulullah meninggal, terjadi suatu kondisi memilukan. Namun, Abu Bakar kemudian bertakziah kepada keluarga yang terkena musibah, dan ia dapat mencairkan suasana, membalut luka, mengusap air mata, kembali menyalakan semangat, menerangi jiwa dan menghidupkan hati.

Ungkapan yang ia sampaikan seperti sebuah perkataan baru yang jatuh dari alam gaib dan menimpa sayap-sayap yang menerima, atau jatuh dari langit lalu menimpa simbol-simbol rasa cinta.

Adalah Thariq bin Ziyad yang mengarungi lautan dan menemukan komunitas orang-orang kafir. Ia kemudian menebar ketakutan di sana dan bertindak sebagaimana tindakan pahlawan perang. Pidato yang ia sampaikan menghunjam telinga para pemberani, memperkeras tombak sahabat-sahabatnya dan membuat para penakut maju untuk menikamkan tombaknya.

Thariq terus berkata-kata dan menggelegar-gelegar kalimatnya, sementara pasukannya terus merengsek, padahal maut di atas kepala dan kebinasaan mencandai setiap jiwa. Namun di bawah gemuruh pidatonya, ternyata tentara kaum muslimin mampu mengetuk pintu kesuksesan, mengangkat bendera kemenangan, walaupun banyak pahlawan rakyat jelata itu mati di atas debu medan peperangan.

Adalah Ali bin Abi Thalib kw., yang apabila berkhutbah ia melantunkan sumber-sumber penjelasan, menggenggam jiwa-jiwa dengan penuh kehalusan, memikat hati dengan penuh keterpikatan dan menghunjam kepala hadirin dengan kafasihannya. Ia mengantar khutbah seolah setiap kalimat yang diucapkannya merupakan lukisan yang sangat indah, cantik dan berharga.

Apabila Ibnul Jauzy menasihati manusia, maka di tempat ceramah itu akan ada pemandangan haru dalam kehidupan orang-orang itu. Ada getaran dalam jiwa manusia yang mendengarnya, ada air mata yang mengalir, ada keheranan pada mereka yang menyaksikan dan ada pula yang “tercambuk” karena cemeti nasihat yang disampaikan.

Sebagian khatib, apabila berkhutbah menggetarkan mimbar dengan gemuruh suaranya, sehingga para hadirin berada dalam genggamannya dan para pendengar berada di bawah kendali tangannya.

Sebagian khatib mengalirkan kata yang penuh ketenangan seperti air yang mengalir tenang dan damai, atau seperti angin yang bertiup lembut dan nyaman. Mereka menemani jiwa sebelum tubuh, dan menghangatkan hati sebelum badan.

Khatib yang efektif adalah khatib yang memiliki kendali atas inisiatif. Dia tidak meninggalkan jiwa-jiwa itu lepas dari genggamannya. Dialah yang menerjuni medan kosa kata dengan memilih kata terbaik dan meninggalkan kata-kata buruk. Dia dapat mengontrol diri, teguh pendirian, percaya diri, kokoh berpijak dan tenang pembawaannya.

Hati para hadirin bergetar karena pengaruh dari hati sang khatib dan jiwa mereka gelisah karena intonasi suaranya yang menghayu bayu.

Khatib yang bagus laksana banjir yang terus bergerak. Jika banjir itu terhalang oleh anak bukit, ia akan menggilas dan naik ke atasnya. Jika ia terhalang oleh lembah, ia akan memenuhi dan melintasinya. Jika ia menghadapi gurun pasir, ia akan bergerak ke kanan atau ke kiri, dan ke segala arah.

Khatib yang bagus selalu berusaha menenangkan dan terus menenangkan; sehingga pendengaran mereka menjadi tenang, dan jiwa mereka menjadi tentram.

Khatib yang bagus akan bertanya lalu diam, laksana singa yang sedang merenung. Ia terkagum-kagum dalam keadaan bingung laksana pujangga sastra. Ia meminta belas kasih melalui ungkapan seperti si miskin papa, memerintah seperti penguasa yang ditakuti dan meratap di tempat yang tepat untuk meratap. Dengannya, ia membuat orang-orang lupa akan “si hidung pipih”, dan ia pun membalut hati mereka dengan ungkapan ketabahan. Karena itu, kegerahan bencana menjadi hilang, seiring dengan datangnya rasa nyaman yang dipancarkan dari dirinya.

Khatib yang bagus dapat menafsirkan ayat-ayat dengan jelas, sehingga dapat melekatkan misi khutbah yang ia sampaikan dan solusi nasihat yang ia berikan lewat ayat-ayat itu.

Ia mampu menghafal hadits-hadits shahih sehingga perkataannya setipe dengan seluruh sabda Rasulullah dan hatinya selalu terkait dengan jiwa yang tidak memiliki dosa itu, Nabi yang agung.

Ia menguasai sastra dari berbagai sisi. Bait-bait syairnya mengalir dari lidahnya, menyenandung, menyemangati dan menyanyikan.
Ia memiliki cerita-cerita yang dapat disampaikan secara mengagumkan dan luar biasa; sehingga orang-orang yang mendengarnya merasa menyaksikan sendiri cerita itu bahkan merasa hidup di dalamnya.

Kita mungkin pernah menyimak berbagai peristiwa namun tidak merasa tergerak, kagum atau penasaran. Namun akan lain kondisinya jika kita mendengar peristiwa-peristiwa itu dari khatib yang lantang. Ia mampu mengemas cerita hingga menyentuh nurani kita yang sakit, yang pada gilirannya akan memercikkan bara kehangatan, semangat dan ketertarikan.

Seorang khatib yang bagus, ketika menyifati malam di siang bolong saat khutbah Jum‘at, maka hadirin akan merasa seolah berada di bawah kegelapan dan dikelilingi oleh sayap-sayap hitam. Ketika menyifati sungai, pendengar merasa seolah baju yang dikenakan basah setelah berenang dari sana. Ketika menceritakan tentara musuh yang jauh, kemudian jamaah melihat ke puncak gunung, mereka merasa bahwa bendera-bendera musuh sudah terlihat dan ciri-ciri mereka semakin dekat.

Tidaklah retorika itu melainkan menarik jiwa orang lain, memiliki hati mereka dan bertindak dalam perasaannya. Tidaklah retorika itu melainkan penguasaan atas koloni pemikiran, membuka keterikatan analisis dan menyelamatkan pendapat-pendapat yang beraneka ragam.
Retorika adalah persuasi, mengubah dari tersesat ke arah petunjuk, dari melenceng menjadi lurus dan dari kezhaliman menjadi keadilan.

Ketika sang khatib menginginkan pendengarnya sedih, ia harus mampu menyampaikan rasa duka dari dalam hatinya. Mengekspresikan rasa prihatin dari relung kalbunya, menggetarkan suara ketika menyampaikannya dan mengalirkan ekspresi-ekspresi kesedihan ke audiensinya.

Kata-kata pedih harus mengalir dari kedua bibirnya, rintihan-rintihannya terdengar seiring cucuran air mata, kalimat-kalimat sedihnya terdengar seiring dengan ungkapan-ungkapan yang ia sampaikan. Sehingga, semua orang menjadi menangis, semua orang menjadi berduka.

Ketika para khatib ingin mengobarkan semangat audiensinya, maka ia harus memotivasi mereka, bersuara keras untuk menebar pengaruhnya, memunculkan kekuatan pada diri mereka dan membangkitkan emosi dengan perasaan iba. Dengannya, para hadirin menjadi berani untuk tampil dan semua mata mencermati kapan datangnya detik-detik untuk berkorban.

Retorika mengandung arti bahwa khatib harus menenangkan sang pemarah yang dendam, yang penuh dengan emosi dan luka-luka. Khatib menenangkan hatinya, merayap ke dalam dirinya, mengeluarkan iri hatinya, melenyapkan kesesakannya; sehingga kepanasan yang ada dalam dirinya mendingin, jilatan api kemarahannya menjadi padam, kemarahannya lenyap dan ia kembali menjadi orang bijak, lurus dan toleran.

Retorika berarti bahwa khatib harus mendatangi sang durhaka yang selalu membangkang dan suka berselisih. Ia kemudian menghaluskan wataknya, berdialog dengan nuraninya dan menyentuh perasaannya; sehingga ia bertaubat, pasrah dan mengakui kesalahan-kesalahan dirinya.

Retorika tidak hanya sekadar kata-kata tanpa makna, arahan tanpa orientasi atau ekspresi tanpa pengungkapan. Retorika adalah keseluruhan itu. Retorika adalah suara dan bentuk, air dan bayangan, bangunan dan reruntuhan, perasaan dan makna, serta perumpamaan dan nilai.

Sebagian penjelasan laksana “magis” yang bisa memikat hati, mewarnai watak, mengubah bentuk, peristiwa, sesuatu atau situasi.
Dan, sebagian retorika adalah “sulap” yang dapat memberanikan diri sang penakut, meluluhkan hati sang pembangkang, memberi kesabaran bagi yang terkena musibah, mendermawankan orang bakhil dan mendorong maju sang penakut. “Sihir” retorika itu terletak pada ketinggian, kedalaman, pengaruh, makna-makna dan perasaannya.

“Kemukjizatan” retorika terletak pada penyampaian, kemanisan dan pewarnaannya. Lidah yang fasih dapat membuat hal-hal yang mengherankan akal, menyimpulkan berbagai peristiwa dan merumuskan berbagai realitas.

Adalah Ahnaf bin Qais, seorang yang kurus kering, tubuhnya lemah, matanya nyaris buta dan anggota tubuhnya hampir lumpuh. Tapi apabila berbicara, suaranya menggelegar di udara, menarik perhatian mata, menggoda pendengaran telinga dan menguasai hati. Inilah kefasihan itu.

Jika ia membela semuah misi, maka ia menjelaskan dengan pedang kefasihannya yang tajam dan menghancurkan gunung keraguan dengan palu hujjah yang menyeramkan. Dialah sosok yang menguasai situasi, guru peristiwa dan penguasa wilayah.

Retorika adalah keberanian yang nyata, maju yang tidak mengenal mundur atau berpaling, dan menghadapi banyak orang tanpa merasa takut, sedih ataupun malas.

Retorika adalah mempersiapkan segala yang ingin diutarakan secara lebih awal, memenuhi otak dengan beragam pembahasan dan menguasai pembicaraan di atas podium dengan sebaik-baiknya. Ketika semua itu sudah terpenuhi, sang khatib akan naik ke atas mimbar dengan penuh percaya diri, mantap keyakinan dan kukuh pendirian. Sebab, ia merasa telah mempersiapkan diri, memfokuskan pemikiran dan mempersiapkan diri untuk berhadapan. Tidaklah retorika itu hanya sekadar ratapan peperangan.
Bahwa kegagalan pertama seorang khatib adalah tidak mempersiapkan apa yang akan disampaikan di dalam hatinya dan tidak menyediakan ide-ide di dalam benaknya. Ia mengira bahwa keberadaannya di depan publik cukup hanya dengan memperkaya otak dengan beragam informasi dan memenuhi logika dengan berbagai ide. Padahal, sesungguhnya asumsi ini sama sekali tidak benar.

Sang khatib yang mumpuni selalu menyajikan khutbah dengan hati, perasaan dan anggota tubuhnya. Ia berbicara di depan publik dengan segenap darah, pembuluh darah dan segala esensi yang ada pada dirinya. Ia berbicara tentang rasa sakit, sedang ia orang pertama yang merasakan sakit itu. Ia merasakan itu tidak hanya dengan lidahnya, melainkan dengan hatinya. Sehingga, rasa itu tercermin pada emosi yang menggelegak di dalam dada, terlihat pada air muka, intonasi suara dan ekspresi serta isyarat-isyarat darinya.

Ia berbicara tentang berita baik, sedang bahagia dengan apa yang terjadi, bersuka cita atas sesuatu yang tercipta dan ia membahagiakan orang lain dengan orasi yang ia suguhkan dari relung jiwanya.

Khatib yang mengalir ucapannya adalah ensiklopedia berbagai pengetahuan. Ia tidak merasa sulit untuk berbicara tentang apa pun, bahkan pembicaraannya mengalir bak banjir yang memenuhi setiap tempat kosong.

Ia sering menelaah, menghapal, mencermati dan mengekspresikan berbagai hal, sehingga khutbah yang disampaikannya seperti sebentuk emas yang tersusun, berdekatan, tanpa bengkok atau kerutan.

Seorang khatib butuh pada pelatihan secara lebih awal dan tidak cukup hanya dengan mencermati karakter seorang khatib lain dan membaca ciri-cirinya. Akan tetapi, ia harus menyelami dunianya sendiri, berkeliling, bereksperimen, dan (bersikap) luwes. Persis seperti berenang. Untuk bisa berenang, setumpuk buku tebal tidak ada gunanya selama ia belum pernah mencoba mendatangi sungai dan menenggelamkan diri di sana, sesuai dengan teori yang dibaca atau diketahui.

Apakah kita mengira bahwa jika ingin mengajak orang lain untuk menyedekahkan harta, kita mampu melakukannya hanya dengan mengumpulkan ayat-ayat, hadits-hadits, lalu mengutarakannya kepada orang lain? Apakah kita mengira kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan?

Tidak. Kita harus mengumpulkan ayat-ayat, hadits-hadits, ibarat-ibarat, ide-ide, lalu membentuknya dengan perasaan, pemikiran dan jiwa. Kemudian menghias ucapan kita, menempatkan diri kita di tengah publik, serta mencermati apakah kemuliaan yang kita bawa itu menarik dan memengaruhi orang lain.

Sekadar pembicaraan yang tidak jelas arah tujuannya bukanlah sebuah retorika, melainkan hanya pembicaraan biasa. Tidak semua orang yang berbicara itu orator (khatib), sebab orasi itu sesuatu yang lain dari berbicara atau berkata-kata.
Tugas para khatib adalah menyampaikan misi kebenaran dengan penyampaian yang dapat memengaruhi dan mengena terhadap perasaan audiensinya. Para khatib itu menjelaskan tentang manhaj Rabbani (metodologi ke-Tuhanan) dengan penuh kehangatan, daya pikat dan daya tarik. Para khatib harus mampu menggemakan suara kebenaran, mengalurkan kejujuran dan kalimat-kalimat Islam di masyarakat.

Ada sekelompok orang yang tidak dapat dibujuk oleh pelajaran biasa, tidak dapat ditarik oleh pembicaraan ringan. Mereka hanya dapat ditarik atau digerakkan oleh pengaruh khutbah yang membekas, serta kefasihan yang mengalir begitu dalam dari sosok seorang khatib. Suara-suara itu harus mengena ke dalam relung hati pendengar, bahkan ke dalam hati yang paling dalam.

Orang-orang yang mengira peranan retorika itu sangat dangkal dan menganggap jeritan atau teriakan itu tidak dibutuhkan, maka mereka telah melakukan kesalahan riil. Sebab, orator nomor satu dan telah melakukan perubahan besar pada sebuah bangsa melalui khutbahnya, adalah Rasulullah Muhammad saw. Beliau menyampaikan khutbahnya dengan suara tinggi sampai wajahnya memerah, seolah beliau instruktur militer.

Meskipun manusia itu bertingkat, namun untuk menggerakkan jiwa mereka cukup hanya dengan pemikiran yang jelas dan penyampaian yang bagus. Dan, itu dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur terkecil yang memungkinkan keberpalingan dalam jiwa pendengar. Semua itu dilakukan dengan sentuhan-sentuhan nasihat dan kontinuitas khutbah, agar mereka menuruti panggilan dan mematuhi khutbah yang disampaikan khatib.

Khalayak ramai jelas membutuhkan para khatib yang kokoh dan terampil. Para khatib menyampaikan tugasnya untuk menasihati atau memengaruhinya, demi menghindarkan mereka dari berbagai kesulitan. Khatib yang baik memiliki pengalaman mumpuni untuk menghadapi berbagai peristiwa dan mempunyai semangat tinggi untuk sampai pada level teratas dalam berbagai hal.
Demikianlah nasihat ‘Aidh al-Qarni tentang bagaimana menjadi khatib yang bagus.
Pada pembahasan di atas, telah dikemukakan nasihat Dr. ‘Aidh al-Qarni tentang bagaimana menjadi khatib yang bagus. Dengannya, dapat diraih keberhasilan dalam berdakwah. Dakwah adalah serangkaian aktivitas metodologis (manhaji) untuk mengubah dari satu tahapan kondisi ke tahapan kondisi berikutnya. Dengan demikian, aktivitas dakwah Islamiyah adalah :
  1. Merubah kondisi kebodohan maknawi kepada pengertian yang jelas dan terang tentang Islam
  2. Merubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)
  3. Merubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)
  4. Merubah aktivitas menjadi keberhasilan (natîjah)
  5. Merubah keberhasilan menjadi tujuan (ghâyah)
  6. Merubah tujuan menjadi ridha Allah (mardhâtillâh)

Seorang khatib, da‘i atau muballigh harus mampu menampilkan ajaran Islam dengan cara yang mengesankan. Bukankah telah dipahami bersama bahwa kita harus berbicara (berkhutbah) kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu, baik situasi, kondisi, pendidikan, latar belakang dan pola pikirnya?
خَاطِبِ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ
Artinya: Serulah (bicaralah kepada) manusia sesuai dengan akal (kapasitas atau kemampuan) mereka.

Oleh karena itu khatib harus mengetahui dan menguasai aneka gaya dan langgam pidato. Berikut ini macam-macam langgam pidato yang banyak dipelajari dan dipraktekkan oleh para orator :
  1. Langgam Agama
Suara kadang menaik, kemudian menurun dengan ucapan lambat. Nada naik untuk penekanan sebuah materi, sedangkan nada turun dengan tempo agak lambat bertujuan supaya pendengar merenungkan apa yang sedang disampaikan.
  1. Langgam Agitasi
Materi disampaikan secara agresif dan eksplosif. Nada yang digunakan adalah nada-nada tinggi. Jiwa massa dikuasai dan digiring ke arah tujuan tertentu. Biasanya untuk membangkitkan semangat dan mengobarkan nasionalisme atau keagamaan.
  1. Langgam Konservatif
Langgam ini paling tenang dan bebas, seperti orang bicara. Biasanya digunakan ketika menceritakan sebuah peristiwa dan terjadi dialog antar pelaku di dalam cerita.

  1. Langgam Didaktik
Langgam ini bersifat mendidik pendengar, seperti orang tua menasihati anak, guru mengajar murid atau dosen membimbing mahasiswa. Penggunaan langgam ini mensyaratkan khatib lebih tua dari pendengar atau lebih berpengalaman sehingga benar-benar dihormati dan didengar nasihatnya. Nada bicara tenang (cool, calm dan confident). Bila orator kurang disegani, penggunaan langgam ini akan membosankan.
  1. Langgam Sentimentil
Mengemukakan persolan dengan memakai bahan-bahan yang dapat mencetuskan sentimen (membakar hati setiap pendengarnya). Digunakan untuk sebuah sindiran keras, bila sindiran halus ternyata tidak berhasil. Sindiran bisa menggunakan sebuah tokoh dari kisah yang pernah terjadi atau penokohan sebuah watak/karakter.
  1. Langgam Teater
Langgam berpidato yang penuh dengan gaya dan mimik. Intonasi, tempo dan nada bicara seperti pemain teater. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara hiperbolik.
  1. Langgam Statistik
Digunakan bila mengemukakan sesuatu yang mengandung angka-angka atau statistik hasil penelitian. Langgam ini sangat cocok bila para pendengar adalah cerdik cendekia, yang lebih mengutamakan isi daripada bungkus. Biasanya para pendengar berusia agak lanjut.

Langgam-langgam di atas umumnya digunakan secara berkelompok (gabungan), tergantung situasi dan kondisi. Khatib harus meramu dan memasak dengan baik, sehingga ciri khas ditemukan dan pidato menjadi menarik, tidak membosankan. Dengan demikian, tujuan dakwah bisa dicapai lebih cepat dan lebih baik. Bahkan diharapkan tercipta langgam-langgam baru hasil kreatifitas para khatib atau da‘i.

Ketika penulis mengikuti Training Khuthaba' yang diselenggarakan oleh Yayasan Koordinasi Masjid Surabaya pada tanggal 15 Juni 2008, salah seorang nara sumber, Prof. H. Moh. Ali Aziz—Guru Besar Ilmu Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya; beliau juga salah seorang ustadz yang mengasuh penulis ketika mengaji di pesantren—memberikan tips-tips praktis dalam berkhutbah, yaitu :
  1. Tetapkan waktu khutbah dan tepati, misalnya 15-20 menit.
  2. Pada saat khutbah I, setelah pembukaan dengan bahasa Arab selesai, tidak perlu lagi mengulang puji syukur ke hadirat Allah SWT serta shalawat kepada Nabi saw. dalam bahasa Indonesia. Ketika memulai penyampaian dalam bahasa Indonesia, langsung saja membahas materi khutbah.
  3. Jangan mengulang-ulang materi khutbah yang sedang trend. Misal sedang saatnya penerimaan siswa/mahasiswa baru. Jangan sampai semua khatib membahas tentang bagaimana memilih sekolah yang baik untuk anak. Hal ini membuat jamaah jenuh karena dalam beberapa Jum'at, setiap khatib mengulas hal yang sama.
  4. Pada khutbah II tidak perlu membahas apa pun termasuk menyimpulkan isi khutbah I karena jamaah sudah bisa menyimpulkan sendiri materi khutbah yang telah disampaikan. Selain itu, juga agar waktu khutbah tidak terlalu lama mengingat bervariasinya pekerjaan atau kesibukan jamaah. Khutbah II cukup dalam bahasa Arab sampai dengan doa.

Selain mengetahui teknik berpidato yang baik, kaidah dakwah juga harus dimengerti, yaitu :
  1. Al-Qudwah qabla da‘wah (memberikan teladan yang baik sebelum berdakwah)
  2. Ta’lîf qabla ta‘rîf (memikat hati dan menumbuhkan rasa simpati sebelum mengenalkan misi)
  3. Ta‘rîf qabla taklîf (memberikan pengertian sebelum memberi beban)
  4. Tadarruj fî taklîf (bertahap dalam memberikan beban atau amal)
  5. Al-ushûl qabla furû‘ (mendahulukan yang pokok/prinsip, baru kemudian disampaikan cabang atau perbedaan-perbedaan)
  6. At-targhîb qabla tarhîb (memberi kabar gembira sebelum ancaman)
  7. At-taysir lâ ta‘sîr (mempermudah, tidak mempersulit)
  8. Al-awwaliyyât (ada skala prioritas)

Dengan semakin majunya pendidikan masyarakat, maka proses dakwah tidak sekadar menawarkan suatu metode klasik melalui pahala dan ancaman atau surga dan neraka; tetapi lebih dari itu, membutuhkan metodologi perencanaan komunikasi dan jaringan misi dakwah, dengan melihat atau menimbang semua indikator sosiokultural sasaran dakwah. Pesan-pesan dakwah tidak hanya ditujukan agar dapat disampaikan dan diterima oleh khalayak, tetapi hendaknya pesan tersebut mampu dimengerti, dihayati dan diamalkan. Bukankah ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah?

Timbul sebuah pertanyaan, “Apakah sudah cukup bila sebagai khatib, kita menguasai teknik retorika dan dakwah? Bagaimana supaya pesan/nasihat agama yang kita sampaikan tidak hanya menjadi ilmu bagi para jamaah? Bagaimana caranya agar nasihat tersebut tidak sekadar masuk telinga yang satu dan keluar dari telinga pasangannya?”

Syaikh Ibnu Athaillah mengingatkan, “Setiap kalimat yang keluar dari lisan menunjukkan isi hati orang yang menuturkannya.” Pesan yang keluar dari bibir seorang khatib harus bersumber dari lubuk hati.
Lisan adalah penerjemah kata hati. Setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang khatib atau da‘i harus keluar dari hatinya sendiri dengan hidayah Allah. Dengannya, maka yang mendengar akan menerima dengan hati nuraninya. Manusia ketika mendengar nasihat dan tutur kata seseorang, tidak semata-mata menginginkan ilmu yang akan disampaikan, akan tetapi lebih dari sekadar ilmu, yaitu sentuhan dan getaran ruhani yang mampu menggerakkan dan menyadarkan jiwa, perilaku dan pikiran.
Tutur kata yang dikeluarkan oleh hati akan masuk dan diterima oleh hati pula. Sebaliknya, ucapan yang disampaikan bukan dari cahaya hati, maka ucapan seperti itu akan sampai di telinga belaka, tidak mengendap masuk ke dalam hati. Seseorang bertanya kepada Muhammad bin Wasi‘, “Mengapa ucapan muballigh, banyak yang tidak dirasakan oleh kalbu umat?” Ia menjawab, “Mungkin ucapan yang keluar hanya dari kerongkongan dan mulut, tidak keluar dari nurani serta tidak tulus.”

Jika tutur kata hanya sekadar daya pikir dan imajinasi belaka, maka itu tetap menjadi susunan kata, tidak memberi makna bagi jiwa dan tidak menyentuh hati. Kalimat yang keluar adalah kalimat gersang. “Tutur kata itu ibarat hidangan bagi pendengar. Kalian tidak mendapatkan sesuatu pun kecuali apa yang kalian makan,” nasihat Ibnu Athaillah lebih lanjut.

Berkenaan dengan upaya menjadi khatib yang baik, bagaimana Rasulullah mencontohkan cara berkhutbah? Dalam kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” terdapat sebuah hadits ke-475 yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdulllah. Jabir berkata, “Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah, merah kedua matanya dan tinggi suaranya dan sangat marahnya, hingga seolah-olah ia sebagai pengancam tentara yang berseru, ‘(Musuh) akan mendatangi kamu pagi-pagi dan petang-petang’.”

Referensi
‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni (Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar) ”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006
Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Hâfizh, “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”
Ibnu Hazm al-Andalusi, asy-Syaikh, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007
Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, “Syarah al-Hikam”
Syaiful Ulum Nawawi, “Retorika dan Pengembangan Dakwah Islam”, Makalah, September 1997
Syaiful Ulum Nawawi, “Retorika”, Makalah, 1990

Tidak ada komentar:

Posting Komentar